Male Teacher in Remote East Nusa Tenggara Village Promoting Gender Equality


(TNP2K/Fauzan Ijazah)

 

Pagi itu di SDI Hawir di Dusun Ndari, Desa Nggilat di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, para murid Kelas V sedang belajar tentang Agama Katolik, namun materi yang diajarkan tidak hanya mengenai menghapal isi Alkitab.

Sang guru, Quintus Kalis, memulai kelas dengan bertanya kepada para murid tentang siapa yang bertanggung jawab untuk memasak di rumah. Murid-murid langsung menjawab serempak, “Ibu!”

“Bagaimana dengan membersihkan rumah? Dan pekerjaan rumah lainnya?” ia bertanya lagi, dan mendapat jawaban yang hampir sama. “Ibu! Anak perempuan!” jawab para murid.

“Anak laki-laki tidak ikut membantu? Bagaimana kalau Ibu sakit? Kalian tidak makan?” ia mendesak. Kali ini, pertanyaan guru berusia 45 tahun itu mendapatkan respon hening.

Sambil tersenyum, Quintus menjelaskan bahwa pekerjaan rumah tangga bukanlah tugas anak perempuan, karena anak-anak perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya serta memiliki kemampuan yang sama.

Dalam obrolan kami di luar kelas, Quintus bercerita bahwa pembagian peran antar gender telah menjadi keprihatinannya sejak lama, meski ia sendiri mungkin tidak terlalu paham arti istilah tersebut.

“Saya melihat kondisi di masyarakat dan jadi heran, bagaimana para pria hanya duduk-duduk saja sambil menunggu kopi dihidangkan. Anak laki-laki bisa bermain seharian sementara anak perempuan harus membantu pekerjaan di rumah sejak pagi. Saya merasa tidak nyaman melihatnya,” ujarnya. Quintus lalu berjanji pada dirinya sendiri untuk mengajarkan nilai-nilai kesetaraan gender kepada para murid ketika ia menjadi guru kelak.

Berasal dari Desa Colol di Kabupaten Manggarai Timur, Quintus menyelesaikan pendidikan guru di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Keuskupan di Ruteng, ibukota kabupaten Manggarai. Ia kemudian bekerja di paroki di Pateng, Kabupaten Manggarai Timur, setelah lulus. Di sanalah ia pertama kali mengajarkan topik kesetaraan gender di kelas agama.

“Mengajarkan Agama tidak hanya melulu tentang berdoa atau kepercayaan, tetapi juga tentang kebersihan, perilaku,” katanya sambil menambahkan bahwa ia pun mengajarkan murid bagaimana memasak nasi.

“Lebih penting lagi, kita harus menerapkan apa yang kita ajarkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi contoh yang baik untuk orang lain. Kita bisa mengajarkan mereka bagaimana cara menyapu lantai, tapi jika kita tidak memberi contoh, mereka tidak akan melakukannya.”

Prinsip-prinsip tersebut ia terapkan di rumahnya sendiri, di mana dua anak perempuannya dan anak laki-lakinya harus ikut mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Quintus tidak terganggu dengan kenyataan bahwa istrinya, yang juga guru, memiliki penghasilan yang lebih besar karena sang istri telah lebih dulu menjadi pegawai negeri sipil.

“Anak perempuan sulung saya bertanya, ‘Kenapa gaji Ibu lebih tinggi daripada Bapak?’ Saya bilang kepadanya kalau sebenarnya Bapak dan Ibu memiliki gaji yang sama, tapi saya berikan gaji saya ke ibu mereka,” katanya sambil tertawa.

Setelah mengajar selama 17 tahun di sekolah menengah pertama, Quintus dipindahkan ke SDI Hawir pada 2013. Ia mendapati bahwa masyarakat di Dusun Ndari lebih santai dibandingkan di Pateng.

“Di Pateng, kalau kita lewat di depan rumah warga saat jam sekolah sudah dimulai, mereka akan bertanya, ‘Pak Guru, kenapa baru lewat? Anak-anak kami di sekolah bagaimana, Pak?’ Tapi di sini, mereka malah berkata, ‘Pak Guru, mari duduk mengopi dulu dengan kami,” ujarnya.
Namun, menurut Quintus, sikap seperti itu sudah mulai berubah sejak program rintisan KIAT Guru yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dan pengaitan pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru hadir di Desa Nggilat, Kabupaten Manggarai Barat.

Program rintisan ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan lima pemerintah kabupaten PDT, salah satunya adalah Manggarai Barat. Proyek ini diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI dengan dukungan teknis dari World Bank dan pembiayaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

Quintus mengatakan bahwa program ini telah menyadarkan masyarakat dan para guru, menyediakan wadah mediasi untuk menciptakan solusi untuk meningkatkan pendidikan siswa.

Ia senang sekali bahwa KIAT Guru menjadikan para murid sebagai inti dari program lewat konsultasi dengan anak-anak sekolah sebelum program dimulai, dengan cara menanyakan pendapat mereka mengenai dukungan yang diberikan guru serta anggota masyarakat dalam kegiatan belajar. Hal ini sejalan dengan pemahaman Quintus bahwa orang dewasa lah yang harus memahami pikiran dan dunia anak-anak, bukannya menjadikan mereka sebagai obyek.

“Kita harus menganggap mereka sebagai anak kita sendiri. Masuk ke dunia mereka, mengenali mereka karena masing-masing anak adalah unik dan memiliki kemampuan serta keahlian yang berbeda-beda. Jika kita tarik mereka ke cara kita berpikir, kita pasti akan jadi tidak sabar,” katanya.

“Jika kita terlalu keras dengan mereka, mereka akan jadi takut untuk belajar. Kalau mereka bersorak girang ketika bel istirahat berbunyi, kita jangan senang dulu, karena itu bisa berarti kelas kita terasa seperti penjara bagi mereka.”

 

(Hera Diani)