Overcoming the Problem of Stunting during the Covid-19 Pandemic

22 October 2020


Terhambatnya proses tumbuh kembang pada tubuh anak secara normal (stunting) merupakan salah satu permasalahan yang saat ini masih dihadapi oleh Indonesia. Masalah stunting penting untuk diselesaikan, karena berhubungan dengan tingkat kesehatan, bahkan kematian anak. Hasil dari Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka stunting dari 30,8 persen pada tahun 2018 menjadi 27,67 persen pada tahun 2019. Walaupun angka stunting ini menurun, namun angka tersebut masih dinilai tinggi, mengingat WHO menargetkan angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen. Kondisi ini diperparah dengan adanya serangan pandemi Covid-19, yang menyebabkan meningkatnya kemiskinan pada masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan untuk memerangi permasalahan ini, The SMERU Research Institute (SMERU) mengadakan webinar yang berjudul “Beyond Stunting: Challenges to Improve Food Security and Nutrition in Indonesia”. Webinar ini dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom, pada Rabu, 14 Oktober 2020. Acara ini dipandu oleh Maria Monica Wihardja, Ekonom dari World Bank.


Gambar 1. Diskusi dari Webinar Beyond Stunting: Challenges to Improve Food Security and Nutrition in Indonesia
Sumber: TNP2K

Bambang Widianto selaku Sekretaris Eksekutif dari Tim Nasional Percepatan Penanganan Kemiskinan (TNP2K) menjadi keynote speaker pertama pada acara ini. Ia mengatakan bahwa kemiskinan yang meningkat akibat pandemi dapat mengurangi kualitas nutrisi di Indonesia. Menurunnya kualitas nutrisi ini tentunya dapat meningkatkan masalah stunting. Masalah ini sangat mengkhawatirkan, mengingat stunting dapat meningkatkan risiko kematian pada anak-anak akibat penyakit seperti diare, pneumonia, dan cacar. Selain masalah kesehatan, stunting juga dapat mengurangi performa edukasi saat anak tersebut sudah dewasa, dan tentunya juga mengurangi performa ekonomi nasional.

Dhian Proboyekti Dipo selaku Direktur Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan mengatakan, untuk mengatasi stunting, masyarakat perlu untuk meningkatkan diversifikasi makanan. Ia mengatakan bahwa konsumsi nasi di Indonesia sudah terlalu tinggi. Bahkan, ia mengatakan bahwa 95,5 persen masyarakat Indonesia kekurangan buah dan sayuran. Hal ini diperparah dengan meningkatnya konsumsi makanan olahan, baik di desa maupun kota. 

Sirojuddin Arif selaku peneliti SMERU mengatakan, permasalahan nutrisi ini dibuktikan oleh rendahnya dietary diversity di Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain. Indonesia berada di posisi 102 dari 113 negara dalam dietary diversity (Global Food Security Index, 2019). Selain masalah nutrisi, terdapat juga masalah kurangnya infrastruktur kesehatan, air bersih, dan sanitasi, sehingga hal ini dapat berpengaruh kepada kesehatan masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Elan Satriawan selaku Ketua Tim Kebijakan TNP2K mengatakan bahwa program Social Protection dari pemerintah merupakan salah satu cara untuk mengurangi angka stunting. Menurut beliau, sudah banyak studi yang menyatakan bahwa program-program social protection dapat meningkatkan gizi dan mengurangi permasalahan ini. Contoh program ini yaitu Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Pemberian Makanan Tambahan (PMT), dan lain-lain. Sejak masalah pandemi muncul, pemerintah sudah menaikkan anggaran untuk program-program social protection.


Gambar 2. Presentasi dari Elan Satriawan, Kepala Tim Kebijakan TNP2K
Sumber: TNP2K

Akan tetapi, menurut Elan, program social protection ini belum cukup. Ada beberapa hal lain yang juga perlu diperbaiki. Pertama, penggunaan teknologi harus ditingkatkan dalam pelaksanaan program peningkatan gizi, mengingat saat ini kebijakan social distancing sudah diterapkan. Kedua, kebijakan-kebijakan yang dapat meningkatkan diversifikasi pangan, seperti kebijakan di agrikultur, social protection, dan cash transfer perlu diimplementasikan dengan baik. Terakhir, pendidikan masyarakat terkait gizi atau kesehatan juga harus ditingkatkan.

John McCarthy selaku Guru Besar Australian National University menambahkan, setiap wilayah di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu, perlu strategi yang berbeda dalam mengatasi masalah nutrisi di setiap wilayah di Indonesia. Jangan sampai hanya ada kebijakan nasional yang menggeneralisasi semua wilayah di Indonesia.

Acara ini diakhiri oleh sesi tanya jawab dari para peserta webinar. Selain itu, acara ini juga ditutup dengan peluncuran laporan SMERU, berujudul “Strategic Review of Food Security and Nutrition in Indonesia 2019-2020”. Laporan ini bisa diakses melalui website SMERU. (KM)